pada masa silam, pemenuhan kebutuhan hanya pada kebutuhan primer, sandang, pangan, dan papan. pemenuhan kebutuhan dilakukan dgn cara bergantung pada alam, transaksi dengan cara barter. seiring waktu berjalan, perbaikan kehidupanpun tercipta. hingga sekarang, bukan hanya kebutuhan primer saja yang di butuhkan, jarum sudah bergerak ke arah sekunder hingga mendekati tersier.
sayangnya hanya pemenuhan kebutuhan saja yang berkembang cepat di negeri ini. perkembangan tidak dilakukan dalam sektor sumber daya manusia. kita terlalu sibuk akan urusan pribadi, dulu kita dijajah secara fisik. sekarang kita di perdaya melalui teknologi.
hal lain yang perlu diperhatikan adalah lemahnya product dalam negeri dalam perekonomian, banyaknya product luar yang membanjiri pasar dalam negeri membuat pengusaha lokal kebingungan. seperti membanjirnya barang dari cina, bukan hanya mainan, buah, lemari plastik yang terlihat seperti lemari kayu, hingga batik cap. kekuatan perkembangan teknologi dan kesungguhan cina yang harus kita contoh sebelum kita bener2 tidak bisa bangkit.
bukan hanya berbenah dalam sistem untuk perputaran perekonomian sendiri, kesadaran masyrakatpun harus di pupuk, sehingga desakan akan kebutuhan yang tidak lagi “premier” dan keinginan masyarakat memenuhi kebutuhan tersebut dengan harga yang “murah” dapat di minimalkan. mendapatkan barang “murah” dan mengabaikan produk dalam negeri.
mari membangun negeri kita, lewat semua sektor, dan semua kalangan. berat sama di pikul, ringan sama dijinjing.
akankah hanya tinggal pepatah, setelah identitas negeri ini menjadi porak poranda.
masih adakan jiwa2 idealis-idealisme yang mau berjuang, bukan dengan bambu runcing lagi, tapi dengan kemampuan itelektual dan keteguhan menggapai impian akan negeri yang hebat.