setelah UN SMA berlalu, ternyata masalah yang dihadapi setiap tahunnya masih sama. Banyak yang perlu diperhatikan memang, hanya saja mana mungkin perubahan bisa di lakukan dengan sempurna secara bersamaan.
faktor2 :
1. kekhawatiran akan kegagalan saat menjalani UN memang meresahkan, siswa jadi terbawa energi negatif akan kegagalan, seperti tahun2 sebelumnya, bagaimana pelajar menjadi depresi karena tekanan ini.
2. dampak kekhawatiran yang di sambut dengan jalan yang tak bisa di benarkan, membeli kunci jawaban. satu hal negatif lagi tertanam di diri pelajar. walaupun kunci yang di berikan belum tentu akurat, tapi tetap menjadi “solusi” yang di pilih alih-alih belajar dengan giat. pemerosotan mental yng mungkin akan di bawa hingga tua.
3. instansi pendidikan, yang entah mengapa sepertinya masih mengkokohkan Ujian Negara sebagai indikator yang baik dalam membangun bangsa. kekurangan sistem ini bukan tak terlihat dan terbaca. mungkin instansi terkait memiliki konsep/ opini sendiri, namun alangkah baiknya masyarakat di dengarkan dan di ajak untuk ambil bagian atas masalah pendidikan bagi anaknya, saudaranya, temannya dan bangsanya sendiri.
tak hanya faktor diatas saja. ada faktor2 teknis yang mungkin bisa menghabat, namun lebih banyak dapat diatasi seperti :
- kemungkinan siswa tidak datang saat ujian (sakit, kecelakaan, atau hal lainnya)
- tidak dalam kondisi sehat saat mengikuti ujian
- berkas tercecer
semua pasti pernah merasakan kekhawatiran saat ujian, bukan saja anak yang memiliki kemampuan terbatas saja bahkan anak yang memiliki kemampuan lebihpun tetap khawatir, walaupun mungkin kekhawatirannya memiliki tingkat yang berbeda.
reason: apakah mungkin membuat sistem dinamik untuk pendidikan, dengan sistem dinamik dapat di ketahui faktor2 yang bermasalah, dan pertimbangan penyelesaiannya dalam membangun perubahan pendidikan secara berkala.